Posts tagged ‘wanita’

Memaknai Hari Kartini

 

Twitter : @SenyumDunia

 

Bersyukurlah kita, wanita Indonesia yang memiliki tokoh seberani Kartini yang telah memperjuangkan emansipasi wanita. Tanpa perjuangan seseorang seperti Kartini, kiprah wanita Indonesia di berbagai bidang seperti sekarang ini hanya akan menjadi wacana dan angan semata. Di samping Kartini, kita juga mengenal beberapa pahlawan wanita yang tidak kalah penting peranannya dalam sejarah Indonesia, sebut saja seperti Cut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu dan R.A Sartika.

Melihat kilas balik seperti dan dalam perkembangannya kiprah Kartini Indonesia hari ini memang kita perlu berbangga. Ada  baiknya kita awali dengan mendefiniskan apa yang sebenarnya diperjuangkan Kartini dan dalam konteks masa kini bagaimana sebaiknya kita mendefinisikan kata emansipasi itu. Banyak di antara kita, yang mengkategorikan perjuangan Kartini sebagai persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Dalam sejarah hidup manusia, derajat laki-laki dan perempuan adalah sama di mata pencipta-Nya. Yang membedakan adalah tingkah laku dan amal ibadahnya. Ada juga yang menginterpretasikan sebagai persamaan kedudukan antara wanita dan pria. Pendapat ini perlu didudukan kepada tempatnya. Tuhan menciptakan pria dan wanita dengan bentuk dan kedudukan yang berbeda. Kedudukan di sini bukan berarti secara hirarkis di mana kaum yang satu lebih tinggi dari pada kaum yang lain. Yang dimaksud kedudukan di sini adalah kedudukan masing-masing individu baik dalam keluarga maupun dalam bermasyarakat. Jika disederhanakan, dalam sebuah keluarga seorang pria kelak akan menjadi seorang ayah dan suami, yang juga kepala keluarga sedangkan seorang wanita kelak akan menjadi seorang ibu dan seorang istri yang merupakan kepala rumah tangga. Jadi, dicermati lebih jauh, yang diperjuangkan Kartini adalah persamaan hak dan peranan wanita baik dalam masyarakat maupun rumah tangga.

Memang benar adanya, salah satu peranan wanita dalam salah satu fase kehidupannya adalah menjadi seorang ibu rumah tangga. Tetapi bukan berarti wanita tidak mempunyai hak untuk menggapai cita-cita dan memainkan peranan lebih besar lagi. Suatu pandangan yang sempit, ketika kita masih mendudukan atau mengindentikan wanita sebagai penunggu dapur, pengurus rumah dan penunggu anak, seolah-olah tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan seorang wanita, kecuali memasak dan mengurus rumah tangga. Sudah saatnya kita lebih menyadari lagi jika seorang wanita juga ingin tampil berkarya, mewujudkan cita-cita dan harapan dengan berbagai macam cara. Dari mulai menggeluti hobi hingga mempunyai karir yang cemerlang.

Ketika kita mendengar kata karir dan kiprah, banyak dari kita yang mengasosiasikan kita akan berpikir wanita yang bekerja di kantor dan jika mungkin dengan kedudukan yang tinggi. Tidak selalu benar. Begitu  banyak wanita Indonesia, seperti wanita di dunia lainnya yang sukses menjadi seniman, perawat, guru atau bahkan menjadi wanita pengusaha yang sukses dengan mengembangkan industri rumahan. Pada perkembangannya kita juga mencatat pernah memiliki presiden wanita, yang diharapkan bukan yang terakhir kali. Pendeknya, bukanlah sesuatu yang salah jika wanita diberikan kesempatan untuk membuktikan dan menunjukan potensi diri tanpa memperoleh persepsi miring.

Emansipasi memang sesuatu yang layak kita sukuri dan kita maknai. Namun bukan berarti adanya emansipasi ini seorang wanita melupakan peranannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Sering kita mendengar adanya emansipasi ini diartikan sebagai “era balas dendam” atau “era unjuk diri”, hingga pandangan ini terlalu jauh dan dibelokkan dengan mengalihkan peranannya kepada suami atau dengan kata lain cenderung merendahkan dan lebih memilih menikah dengan karir ketimbang kebahagiaan dan kebersamaan dengan keluarga. Persepsi seperti ini jelas bukan persepsi yang baik dan bukan pula persepsi yang benar. Dalam beberapa kasus, fenomena “menikah dengan karir” ini juga sering menjadi salah satu pemicu perceraian yang sangat disayangkan dan disesalkan.  Ketika seorang wanita memilih untuk memainkan dua peranan, selain seorang ibu juga bekerja, tidak ada salahnya jika dipertimbangkan untuk memainkan kedua peranan ini dengan sebaik-baiknya dengan dasar keseimbangan. Walau bagaimanapun secermerlang apapun karir seorang wanita, tidak bisa dipungkiri, di rumah ada anak-anak yang menanti kehadiran ibunya ada juga seorang suami yang juga menginginkan kehangatan dalam sebuah rumah. Perlu diingat, bukan suatu rahasia jika karir cemerlang seorang wanita dimungkinkan dengan adanya dukungan suami dan anak-anak. Adalah juga kebahagiaan dan kebanggaan seorang wanita melihat anak-anak tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu dan menjadi pendamping suami dalam suka dan duka. Kemampuan seorang wanita untuk menjalankan dua peranan yang berbeda sama baiknya adalah ciri wanita hebat yang layak menjadi kebanggaan keluarga.

Memang tidaklah mudah untuk memainkan kedua peranan sekaligus, namun bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin. Ada banyak cara di mana kedua peranan ini dapat dimainkan seiring dan sejalan. Pada dasarnya seorang wanita yang berkeinginan untuk bekerja atau berkiprah mempunyai dua pilihan, bekerja dari rumah, atau dari rumah atau keduanya. Begitu banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah, misalnya industri rumahan, usaha konveksi, warung. Atau bisa juga dengan cara mengembangkan potensi intelektualitasnya , seperti membuka kursus bahasa di rumah, notaris penterjemah dan lain sebagainya. Keuntungan dari bekerja di rumah adalah, tidak ada waktu yang terbuang yang dihabiskan di jalan, waktu bersama keluarga juga bisa lebih maksimal. Untuk mereka yang memilih bekerja di luar rumah, menyiasatinya misalnya dengan cara memilih tempat kerja yang tidak terlalu jauh dari rumah, atau dengan sebisa mungkin menghindari lembur untuk suatu pekerjaan yang bisa dilakukan keesokan harinya. Dengan cara ini, diharapkan waktu yang tersisa dalam satu hari dapat dioptimalkan bersama keluarga.

Di dalam pengertian yang lain, emansipasi juga sering dijadikan alasan yang mengesankan betapa lemahnya seorang wanita itu. Beberapa waktu yang lalu misalnya sempat terdengar adanya usulan adanya cuti khusus menstruasi, beruntung wacana ini tidak direalisasikan. Atau aspirasi lainnya yang sifatnya memberikan kesan kalau seorang wanita yang cengeng itu layak diperhatikan, misalnya dengan menuntut persamaan gaji dengan kaum pria tanpa ingin bekerja keras. Perlu diingat, ada setiap konsekuensi yang perlu dipikul dari setiap pilihan yang diambil.  Begitu juga ketika seorang wanita memutuskan untuk menjalankan dua peranan dalam kehidupannya.

Terlepas dari itu semua, realita yang masih terjadi adalah, begitu banyaknya wanita Indonesia yang belum mendapatkan kesempatan. Untuk mengenyam pendidikan yang layak misalnya, sudah menjadi rahasia umum, fasilitas pendidikan belumlah merata dan begitu banyak wanita di daerah terpencil yang belum bisa menikmati fasilitas pendidikan dengan layak. Tidak hanya itu, calon-calon Kartini masa depan harus berjuang untuk mewujudkan cita-citanya dan atau menyambung hidup, harus mengorbankan masa kanak-kanak untuk bekerja. Bercermin dari keadaan ini, sudah selayaknya mereka yang memiliki kesempatan, mensyukurinya dengan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya.

Yang perlu digarisbawahi adalah, seorang wanita diberikan karunia dan kepercayaan untuk memainkan peranan dalam kehidupan ini. Apapun peranan yang dipilih lakonilah peranan itu dengan baik. Emansipasi adalah awal perjuangan untuk mewujudkan kesamaan peran, tugas kita semua untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita Kartini.

April 21, 2013 at 2:45 pm Tinggalkan komentar

Demonstrasi Massal India : Pesan dengan 2 Nuansa

 

Twitter : @SenyumDunia

 
Sudah sekitar seminggu terakhir peristiwa keji dan tragis yang terjadi di New Delhi India menghiasi berita utama di berbagai media. Tentu saja, hal ini menjadi sorotan mengingat protes dari berbagai kalangan terutama kaum perempuan ini begitu besar dan peristiwa ini terjadi di kota sebesar New Delhi.

 
Meski sebagian besar media mencoba memfokuskan diri kepada latar belakang demonstrasi ini adalah kekerasan terhadap kaum perempuan, secara pribadi saya melihat alasan demonstrasi ini merupakan manifestasi kekecewaan masyarakat setempat atas minimnya keamanan di kota mereka.

 
Di satu sisi tentu saja saya memahami reaksi ini tetapi di sisi lain saya cukup terkejut sekaligus kecewa ketika mendengar pernyataan dari kekasih korban dalam suatu wawancara. Ketika peristiwa terjadi, mereka sempat berteriak untuk meminta bantuan selama kurang lebih 25 menit, namun tidak ada reaksi dari pejalan kaki yang melintas. Ini juga berarti, solidaritas yang mereka tunjukan melalui demonstrasi ini memiliki standar ganda. Di satu sisi, mereka mengecam aksi ini mati-matian dan menyalahkan pemerintah tentunya, di sisi lain rasa kebersamaan mereka juga minim dan tidak terlihat niatan untuk menolong korban. Jika hari itu, elemen masyarakat bergerak, baik dari pengendara mobil maupun para pejalan kaki, mungkin kejadian ini bisa dicegah dan korban dapat diselamatkan.

 
Inilah pesan yang saya tangkap dari peristiwa ini. Di tengah-tengah meningkatnya individualisme, saya berharap kejadian seperti ini tidak terjadi di Jakarta atau tempat lainnya di Indonesia, karena walau bagaimanapun dan secanggih apapun teknologi sekarang ini, kita tetaplah manusia biasa yang merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa manusia lain. Jika secara komunal kita kuat, maka kita dapat mengharapkan jika suatu tindak kejahatan dapat kita cegah sedini mungkin.
Dengan kata lain, mudah-mudahan saja wawancara yang ditampilkan dalam berbagai tayangan berita ini juga dapat menggugah kesadaran akan semangat kebersamaan dan solidaritas. Karena kita semua merupakan bagian dari sebuah komunitas besar.

 
Di sisi lain, saya tentunya mengharapkan jika demonstrasi masal ini juga dilihat sebagai masukan baik bagi pemerintah setempat maupun bagi pemerintah di negara lain, termasuk Indonesia. Setidaknya apa yang dapat kita pelajari dalam tingkatan ini adalah betapa pentingnya memperbaiki sistim keamanan agar tidak terjadi lagi dan bahkan dapat dicegah. Yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan patroli kepolisian, dan menambah pemasangan kamera CCTV dan memaksimalkan pengawasan di segala lini, terutama di titik-titik rawan.

 
Selain itu sanksi tegas dan berat juga perlu diterapkan. Dan hukumannya harus disesuaikan dengan perbuataannya dan memberikan efek jera, baik bagi si pelaku sendiri maupun bagi yang lain, agar mereka tidak melakukan kejahatan serupa.

 
Selain upaya kongkret dari pemerintah, partisipasi masyarakat juga sangat diperlukan demi terciptanya rasa aman ini. Sementara itu, terlepas dari berita demi berita yang kita dengar, suatu reaksi normal jika kita merasa cemas atau merasa tidak aman ketika menggunakan kendaraan umum. Namun kehidupan ini harus berjalan, apa yang dapat kita lakukan tidaklah sulit. Upaya yang paling sederhana tentunya menghindari sebisa mungkin untuk menggunakan kendaraan umum di jam-jam yang rawan dan menghindari berjalan sendirian di malam hari terutama di daerah rawan. Tidak ada salahnya bagi perusahaan yang memperkerjakan karyawan hingga larut malam untuk menyediakan semacam jemputan, atau menggalakan semacam sistem “car pool”. Tidak semua perusahaan mampu menyediakan fasilitas semacam ini memang. Secara hukum, perusahaan manapun memang tidak diwajibkan untuk memikul tanggung jawab sosial, namun jika tujuannya untuk turut memberikan rasa aman bagi pegawainya mengapa tidak.

 
Apa yang terjadi di India dan reaksi masal yang begitu besar merupakan suatu pesan sekaligus kejadian yang dapat kita ambil hikmahnya. Kejahatan, apapun bentuknya tidak akan berkurang jika tidak ada tindakan dan upaya nyata. Oleh karena itu, sudah saatnya jika semua pihak melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang penting. Walau bagaimanapun rasa aman adalah adalah hak asasi dan dambaan semua insan. Mulai sekarang mari kita galakkan kebersamaan dan partisipasi aktif demi keamanan bersama.

Januari 6, 2013 at 10:13 pm Tinggalkan komentar



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.