Posts tagged ‘supir taksi’

Istanbul Selayang Pandang

Twitter : @SenyumDunia

Setelah melalui penerbangan yang cukup unik, kamipun tiba di bandara Attaturk dan langsung menuju loket Visa Kedatangan. Beruntung, kami tidak perlu menunggu lama, dan untuk saya pribadi cukup waktu untuk sekedar menengok daftar harga untuk visa. Dalam hati terbesit pertanyaan mengapa warga Negara Indonesia harus membayar 25 dollar sementara ada begitu banyak negara yang tarifnya tidak semahal tarif visa untuk WNI. Di sisi lain saya positif saja, mungkin orang Indonesia dinilai mampu dan berita menarik lainnya, ada setidaknya satu negara yang tarifnya lebih mahal.

Giliran kami pun tiba, dan saya berpikir untuk membayar dalam bentuk Euro karena kami toh tiba dari Brussel dan bukan dari Jakarta. Ternyata apa yang saya pikirkan keliru. Si petugas loket, sama sekali tidak mengizinkan saya untuk membayar dalam bentuk Euro dan ngotot kalau saya harus membayar dalam bentuk dollar. Untunglah hal ini tidak berlangsung lama, karena saya toh membawa dollar. Pada akhirnya kami dapat visa, dan si petugas loketpun senang.

Setelah melalui pemeriksaan paspor, kamipun melenggang untuk mencari taksi. Sistem taksi di sana, tidak sesederhana yang kami pikirkan. Untunglah ada seorang petugas yang baik hatinya dan mengarahkan kami kepada taksi yang tersedia. Akhirnya, setelah kami memasuki taksi barulah kami merasakan ucapan selamat datang. Sang supir dengan ramah membagikan tips – tips yang berguna, tidak hanya seputar tempat-tempat menarik tetapi juga tempat makan, jam buka tempat wisata yang kami rasakan sangat berguna.

Dari taksi, saya tidak melewatkan kesempatan untuk mengenali kota yang baru pertama kali saya kunjungi ini. Secara umum, saya mendapatkan kesan kota ini merupakan kota yang bersih walaupun saya agak ngeri melihat para pengguna jalan yang tidak mengenal takut. Kalau boleh saya gambarkan, mirip film “Fast and Furious”.  Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan laut Marmara yang cukup memukau, sayang sekali pemandangan secantik ini tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemilik rumah makan. Mereka lebih suka membuka restoran, agak jauh dari bibir pantai. Tentu saja, jika memang pemerintah setempat melarang pembukaan restoran langsung di tepi pantai, saya dapat memakluminya.

Tanpa terasa, 30 menitpun berlalu dan tibalah kami di areal tempat kami menginap. Karena supir kami tidak mengetahui persis letak hotel kami, ia bertanya kepada orang-orang di sepanjang jalan, dari mulai pedagang hingga pejalan kaki. Sepintas lalu, saya mendapatkan kesan jika mereka bertanya dengan cara berteriak seperti orang sedang marah. Tetapi kesan ini lumer seketika ketika di akhir percakapan mereka saling melempar senyum. Ketika kami tiba di jalan utama kami dikejutkan dengan penutupan jalan menuju hotel kami, kami hampir saja harus berjalan dari taksi menuju hotel. Namun “kekhawatiran” ini tidak berlangsung lama, karena beberapa menit kemudian, blokir jalan terbuka dengan otomatis dan kamipun turun dengan perasaan senang, dan sang supir juga mengatakan kalau kami beruntung hari itu, karena tidak biasa-biasanya pembukaan jalan berlangsung secepat itu.

Biaya hidup di Istanbul, tidaklah terlalu tinggi. Setidaknya jika dibandingkan dengan beberapa negara lainnya di Eropa. Untuk ongkos taksi misalnya, untuk perjalanan 30 menit antara bandara dan hotel, kami hanya menghabiskan sekitar 47 Lira, walaupun memang nilai ini merupakan kompensasi dari taksi yang tidak ber-AC. Untung saja, hari itu cukup dingin (sekitar 8 dejarat celcius) dan panasnya taksi kami rasakan sebagai penghangat.

Hari pertama di Istanbul kami lalui dengan mempelajari areal hotel kami. Hotel ini terletak dekat dari halte tram “Sirkeçi” dan ternyata Hagia Sofia serta Mesjid Sultan Ahmet hanya berjarak 2 halte saja dari tempat kami menginap dan dalam jarak 1 halte atau kurang lebih 10 menit berjalan kaki, pintu gerbang istana Topkapi menanti. Selain itu, hotel tempat kami menginap juga dikelilingi begitu banyak restoran, baik sekelas rumah makan maupun restoran. Tidak hanya itu, dengan berjalan 5 menit saja menuju halte tram, kami sudah menemukan toko yang menjual baklava, makanan kecil yang serba manis khas Turki. Pendeknya, areal hotel tempat kami menginap merupakan lokasi yang ramai dan strategis.

Hari berikutnya kami langsung mempelajari sistem kendaraan umum di sana. Hotel kami dengan baik hati meminjamkan “Istanbul Card” yang kami isi ulang sendiri dan memberikan peta kota beserta penjelasan yang menarik. Dengan merogoh kocek sebesar 30 Lira, cukup untuk 2 orang selama seminggu. Tempat isi ulang pun tidak sulit ditemukan, di halte Sirkeçi misalnya terdapat mesin yang disebut “jetonmatik”. Mesin ini tidak hanya berguna untuk membeli kredit tetapi juga dapat digunakan untuk mengecek sisa kredit yang ada.

Sistim transportasi di Istanbul sangatlah modern, tertib dan aman. Beberapa kali kami harus menaiki tram yang penuh sesak, namun tidak sekalipun kami merasa takut copet atau kejahatan lainnya yang lazim terjadi di dalam kendaraan umum. Jam operasionalnya pun cukup panjang, dari jam 6 pagi hingga tengah malam. Selain itu frekuensi tram pun cukup teratur. Selama kami berada di sana, maksimal waktu tunggu yang kami rasakan sekitar 5 menit saja. Namun jika kami rata-ratakan, waktu tunggunya mungkin sekiatar 3 menit.

Sebagian besar obyek wisata di Istanbul dapat dijangkau dengan tram. Tergantung lokasi tempat anda menginap, anda dapat menjangkau beberapa obyek wisata bahkan dengan berjalan kaki. Dalam pengmatan kami hanya beberapa tempat saja yang lokasinya lebih mudah dijangkau dengan menggunakan taksi, di antaranya Museum Kariye (Gereja Chora), Mesjid Sulemaniye dan menara Galata.

Sekedar informasi saja, taksi di Istanbul tidak sekeren taksi di Jakarta, anda tidak akan melihat supir taksi yang berseragam apalagi taksi dengan identitas pengemudi, dan semua taksi yang kami tumpangi (kurang lebih kami 4 kali naik taksi), sekali lagi tidak satupun yang ber-AC, namun saya menangkap kesan taksi dilengkapi pemanas ruangan dan bukan AC (pendingin ruangan). Terlepas dari situasi ini, taksi di Istanbul selalu beroprasi dengan menggunakan argo. Mungkin sulit dipercaya, namun selama kami berada di sana, kami tidak mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. Dalam setiap rute, kami selalu mengecek peta dan plang petunjuk jalan. Sejauh pengamatan dan apa yang kami rasakan, tidak ada supir taksi yang sengaja beputar-putar untuk menaikkan argo.

Perlu juga sedikit saya tambahkan, dari 4 kali naik taksi yang kami alami, 3 supir taksi tidak berbicara bahasa Inggris. Mungkin tidak ada salahnya jika anda bermaksud pergi ke Istanbul untuk mempelajari dasar-dasar bahasa Turki.  Ada satu hal yang perlu diwaspadai, uang Lira palsu. Yang kami alami,  ternyata mendapatkan pecahan 50 Lira palsu. Tidak pasti di mana kami memperoleh ini. Yang pasti berkat kejadian ini, salah satu pedagang menunjukkan cara bagaimana mendeteksi Lira palsu. Pada uang palsu gambar hologram yang merupakan bagian dari tali segel di sebelah kanan pudar, dan ketika dipegang, uang palsu lebih tipis daripada yang asli.

Aspek terakhir yang ingin saya soroti dalam bagian kali ini tentu saja keramah tamahan masyarakat Turki. Kecuali supir taksi yang tidak selalu berbahasa Inggris, selebihnya tidak ada masalah. Dari mulai pelayan restoran hingga penjual suvenir, mereka berbicara fasih berbahasa Inggris. Satu hal lagi, orang Turki termasuk orang yang terbuka terutama terhadap turis dan mereka memiliki selera humor yang baik. Singkat kata,  selama berada di sana, kami tidak merasa sedikitpun berada di negara asing.

Bagian ini saya cukupkan hingga di sini, cerita selanjutnya akan disajikan dalam jilid 3.

April 9, 2013 at 8:35 pm 2 komentar



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.