Posts tagged ‘Basilica Cistern’

Kenangan dari Istanbul

 

Twitter : @SenyumDunia

 

Perjalanan ke Istanbul mendekati akhir, namun demikian kami membawa pulang sejuta kenangan indah yang tak tergambarkan dengan kata-kata. Dalam blog ini saya akan menggambarkan tempat-tempat yang memberikan kesan tersendiri.

Selat Bosphorus merupakan, selat yang tidak mungkin dipisahkan dari kota bersejarah ini. Selat ini begitu penting, karena selat ini merupakan pemisah antara Istanbul di benua Eropa dan bagian lainnya yang berada di benua Asia. Hari itu tanpa direncakan dan tanpa disadari pula, kami sedang berada tidak jauh dari jembatan Galata dan dari kejauhan kami melihat dermaga kecil tempat berlabuhnya beberapa feri penyebrangan. Dengan bermodalkan keingintahuan yang tinggi, kami akhirnya memutuskan untuk melihat jadwal dan harga untuk menaiki feri kecil untuk menikmati selat Bosphorus. Dengan membayar sekitar 12 Lira per orang saja, kami akhirnya menaiki ferri yang berangkat tepat pukul 18:00 waktu setempat.

Pemandangan selat ini sangat luar biasa, tidak hanya keindahan selat ini saja tetapi pemandangan dari dua sisi yang berbeda dan penuh sejarah. Tidak hanya itu, deretan hotel mewah dan lampu yang berwarna-warni memberikan nuansa tersendiri, dan inilah cara lain yang perlu dicoba untuk menikmati kota Istanbul. Pada awalnya kami duduk di dek atas feri yang kami tumpangi. Namun setelah berada di dek atas selama setengah jam, terpaan angin semakin kencang dan kami pindah ke dek bawah yang tertutup dan dilengkapi pemanas ruangan. Melewati malam dari feri sambil menikmati secangkir teh hangat merupakan kenangan yang tak terlupakan.

Ketika berbicara mengenai selat Bosphorus, tidak lengkap rasanya jika tidak melintasi jembatan Bosphorus, jembatan yang memisahkan antara Istanbul di benua Eropa dan yang berada di benua Asia. Dengan pemikiran inilah kami memutuskan untuk mengikuti tur keliling yang ditawarkan di sekitar kota tua. Para penjual tur merupakan staf profesional dan dilengkapi dengan tanda pengenal, dengan kata lain para wisatawan tidak akan terjebak calo. Meski demikian, diperlukan kelihaian untuk bernegosiasi karena brosur yang mereka ditawarkan dalam mata uang Euro. Diperlukan kecepatan berpikir untuk mengkonversi nilai Euro ke Lira agar tidak terjebak strategi si penjual. Setelah pura-pura tidak tertarik, kami akhirnya mendapatkan diskon sebesar 5 Euro per orang atau sekitar 10 Lira per orang. Dengan mengantongi tiket yang berlaku 24 jam ini, kami akhirnya menaiki bus tur.

Setelah beberapa menit menunggu, buspun melaju melewati bagian-bagian penting kota Istanbul, di antaranya Alun-Alun Taksim, Kawasan Alun-Alun Sirkeçi, berbagai museum sambil sesekali berhenti di halte yang telah ditentukan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Dengan sistim hop on hop off, para pelancong dibolehkan meninggalkan bus kapan saja dan bus akan kembali melewati halte-halte yang telah ditentukan setiap jam. Setelah lama dinanti sampai juga akhirnya kami di jembatan yang terkenal ini. Tidak ada yang istimewa dari jembatan ini kecuali warna-warni lampu di malam hari yang menghiasi jembatan ini. Selebihnya tentu saja, pemandangan selat Bosphorus yang indah. Setelah hampir berada 1 jam di dalam bus, kamipun memutuskan turun di istana musim panas kesultanan Ottoman yang berada di benua Asia. Nama istana ini adalah Beylerbeyi.

Tidak seperti saudara tuanya, istana Dolmabahçe, istana ini berukuran lebih kecil. Meski lokasinya sama-sama di tepi selat Bosphorus dan persis di ambang jembatan ini, istana ini tidak terlalu banyak dikunjungi wisatawan. Tidak ada antrian di loket dan kami begitu santai mengingat pemandangan ini menjadi pemandangan yang tidak biasa. Seperti halnya di istana lainnya, di istana inipun, keliling istana ini juga disertai pemandu dan terjadwal. Untuk memasuki istana ini lagi-lagi pengunjung diharuskan mengenakan pembungkus plastik seperti sepatu balerina. Meski tidak besar dan lebih sederhana, bagian dalam istana ini tidak kalah indahnya dengan istana Dolmabahçe. Tidak seperti istana pendahulunya, istana ini tidak dilengkapi penghangat ruangan, karena Sultan Abdulaziz (1861-1876), sultan yang bertahta kala itu hanya berada di istana ini selama beberapa minggu saja selama musim panas. Istana ini juga merupakan saksi bisu yang menjadi sejarah kelam bagi kesultanan Ottoman, mengingat istana ini merupakan istana di mana Sultan Abdulhamid menjalani masa tahanan rumah dari tahun 1912 hingga akhir khayatnya pada tahun 1918.

Selain itu, jika Harem (istana khusus wanita) dibangun terpisah dari istana utama, harem di istana ini dibangun di dalam istana yang sama. Di mana ibu suri memiliki ruangan tersendiri. Istana ini boleh dibilang merupakan satu-satunya istana yang masih berdiri megah di benua Asia.

Meninggalkan segala kemegahan di benua Asia dan kembali ke benua Eropa, saya teringat akan kunjungan kami ke suatu obyek wisata yang tak kalah uniknya. Nama obyek wisata ini adalah Basilica Cistern. Lokasinya tidak jauh dari komplek kota tua, dan kebanyakan turis mengunjungi obyek wisata ini setelah mengunjungi Hagia Sofia.

Tidak seperti ketika mengunjungi Hagia Sofia, perhatian saya tertuju kepada penjual jagung bakar dan rebus yang begitu laris manis menjual dagangannya. Melihat itu tentu saja saya langsung ingat Indonesia. Ternyata jagung bakar dan rebus juga cukup populer di Turki. Menunggu antrian di obyek wisata ini tidak terlalu lama, walaupun arus masuk agak tersendat. Selama menuruni beberapa anak tangga terpampang larangan untuk berhenti di tangga. Sepintas lalu larangan ini terbilang “aneh”, tetapi dikarenakan arus wisatawan yang cukup ramai disertai dengan tangga yang terkadang licin, berhenti di tangga dapat membahayakan tentu saja.

Areal bangunan ini tidaklah besar, 30 menit cukup untuk menikmati penampungan air yang terletak di bawah tanah ini yang dibangun di masa kekaisaran Byzantium. Selain terpelihara dengan baik, pilar-pilar yang menjadi tiang penyangga di bangunan ini dilengkapi lampu yang cahayanya memberikan nuansa magis dan sulit untuk menahan kamera di dalam saku, karena begitu banyak sudut-sudut dalam bangunan ini yang sangat unik dan memiliki nilai fotografi yang sangat tinggi. Pendeknya, berada di tempat ini serasa berada di negeri impian.

Selain tempat-tempat di atas, ada satu mesjid yang juga tidak terlalu populer, namun sayang untuk dilewatkan. Mesjid ini bernama masjid Sulemaniye. Letaknya berada di atas bukit dan lebih mudah dijangkau dengan taksi. Untuk menjangkau masjid ini, taksi harus melewati jalan-jalan kecil dan pintu gerbangnya pun nyaris tak terlihat. Begitu sampai di depan pintu gerbang masjid, sungguh luar biasa, kompleks masjid ini jauh lebih besar dari pada kompleks Mesjid Sultan Ahmet. Meski dibangun pada era yang sama, rancangan dalam masjid ini berbeda dari Mesjid Sultan Ahmet. Tidak hanya itu, berjalan memutari tembok mesjid ini seperti laiknya berjalan di mengelilingi suatu komplek perkotaan. Tidak hanya ukurannya yang besar, tetapi juga tembok yang mengelilingi mesjid ini kokoh bagaikan benteng.

Tidak jauh dari lokasi mesjid ini, tepatnya sekitar 20 menit berjalan kaki merupakan lokasi di mana Grand Bazaar berada. Dari mesjid ini tidak sulit sebenarnya untuk menemukan tempat ini, namun tidak ada salahnya jika Anda selalu memastikan peta Istanbul selalu berada di tangan.

Bangunan Grand Bazaar ini cukup unik dan nilai sejarahnya dipertahankan, tidak ada satupun bagian dari bangunan Grand Bazaar ini yang berubah. Meski ramai dikunjungi para wisatawan, berjalan di Grand Bazaar sangatlah aman, tidak ada penjual asongan yang membuntuti kita ke mana-mana, dan tidak ada bahaya copet. Sebagian besar barang yang dijual bukanlah harga mati, meski ada di antaranya yang memang mencantumkan bandrol harga. Bangunan ini terdiri dari 4 pintu gerbang utama, dan setiap lorongnya dipisahkan berdasarkan kategori barang yang dijual. Namun sayang, karena semuanya tertulis dalam bahasa Turki, kami memutuskan untuk melihat-lihat barang yang dijual setiap kali kami melihat plank.

Tanpa disadari, pintu yang kami lalui untuk memasuki Grand Bazaar ini tidak terlihat lagi dan dengan modal nekat kami berjalan lurus saja mengikuti arus dan kamipun meninggalkan Grand Bazaar melalui pintu lain. Dapat dikatakan, kami sempat tersasar dan ketika ada dua belokan, kami hanya menebak saja dengan mengharapkan akan tiba di jalan besar atau sukur-sukur halte tram. Sayangnya yang kami harapkan tidak terjadi, dan pada satu titik kami tiba di persimpangan di mana kali ini nama jalan terpampang jelas. Setelah membuka peta, tebakan kami tidak seratus persen salah, karena ternyata kami berada tidak jauh dari obyek wisata lainnya yakni Pasar Rempah-rempah Mesir (Egyptian Spice Market).

Setelah berjalan sekitar 100 m, kami memasuki pasar yang sering disebut sebagai tujuan “yang tidak boleh dilewatkan”. Setelah sampai, terus terang saja tidak ada yang luar biasa dari tempat ini, karena sebagian besar rempah-rempah yang dijual dapat ditemukan di Indonesia. Namun demikian ada satu jenis rempah-rempah yang terus dipromosikan di setiap toko yang kami lewati, yakni Safron murni dari Iran. Warna rempah-rempah ini sangat menarik dan tidak jelas apa yang sebenarnya yang membuat produk ini begitu dipromosikan. Kualitas, rasa atau jangan-jangan toko-toko hanya memasang plank seperti ini untuk menarik perhatian para turis. Entahlah, yang jelas karena dirasa tidak ada yang dilihat, kami memutuskan meninggalkan areal pasar ini. Untuk keluar dari pasar ini sangatlah sulit, lautan manusia berjejal-jejalan, arus masuk dan keluar tidak teratur. Setelah beberapa menit berjuang kami berhasil keluar dari jejalan massa ini.

Memasuki malam terakhir kami di Istanbul, kami memutuskan untuk menghabiskannya di alun-alun antara Hagia Sofia dan Mesjid Sultan Ahmet. Pada awalnya kami berniat untuk mengikuti tur lainnya, yakni Golden Horn turn, untuk melihat-lihat bagian bersejarah lainnya dari kota Istanbul. Ketika kami mendekati salah satu bus, kami langsung dihampiri salah satu staf penjual tur. Sayang tur yang kami inginkan sudah berakhir dan sang penjual berusaha menjual paket lain, karena kami terlihat kurang antusias sang penjual merubah taktik, ia bertanya negara asal, ketika saya menyebutkan Indonesia, sang penjual ini langsung berbicara bahasa Indonesia, saya sangat terkejut sekaligus terkesan karena meski tidak lancar dan fasih, boleh dibilang sang penjual tur merupakan satu-satunya orang Turki yang saya temui yang berbicara bahasa Indonesia. Suasana pun berubah menjadi cair dan penuh canda. Meski akhirnya kami tidak jadi mengambil tur yang ditawarkan, pembicaraan kami diakhiri dengan penuh keakraban dan tentu saja kesan yang mendalam.

Akhirnya, malam terakhir, kami melewatinya dengan menikmati matahari terbenam di balik Hagia Sofia sambil menikmati secangkir kopi Turki dan menyimpan harap jika suatu hari nanti kami dapat kembali ke tempat ini.  

 

April 22, 2013 at 7:47 pm Tinggalkan komentar



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.